Looking For Anything Specific?

ads header

Gresik, yang Kutemukan Ulang Lewat Residensi Literatutur

Residensi Literatutur membantuku menemukan kembali rasa cinta pada kota kelahiran, Gresik.

Foto bersama sebelum Ziarah Pertama


Berbicara mengenai Gresik, tentu kota ini bukanlah tempat yang asing bagiku. Sebab, aku dilahirkan dan dibesarkan di sini. Namun, ada yang berubah tentang caraku memandangnya, semua ini bermula ketika aku mengikuti kegiatan Residensi Literatutur 2.

Residensi Literatutur sendiri adalah sebuah program yang diinisiasi oleh Yayasan Gang Sebelah. Sementara untuk tema yang diangkat adalah Hikayat Giri Kedaton. Jadi, para peserta residensi terpilih diajak menelusuri kembali jejak-jejak kejayaan kedatuan Giri—dan perjalanan inilah yang membuatku mulai mengagumi Gresik dengan segala sejarah dan budayanya.

"Literatutur adalah program inisiatif Yayasan Gang Sebelah yang memadukan kata literatur (teks) dan tutur (tradisi lisan/cerita). Program ini berfokus pada pencarian, pembacaan, dan pendokumentasian karya sastra dengan berbasis riset, wawancara, arsip, serta ingatan kolektif masyarakat.

Edisi perdana pada tahun 2023 melahirkan antologi cerpen Tinutur, hasil residensi 18 penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Pada edisi kedua tahun 2025, fokus diarahkan pada penulisan ulang Hikayat Giri Kedaton—sebuah hikayat penting dari Gresik yang memuat nilai sejarah, pendidikan, moral, dan kebudayaan."
(Cr: TOR Residensi Literatutur 2025) 

Menelusuri Hikayat Giri Kedaton Gresik Selama 3 Hari bersama Residensi Literatutur

Kebersamaan panitia dan peserta


Awalnya tidak ada ekspektasi apa pun terkait kegiatan residensi ini. Aku hanya belajar memberanikan diri mengikuti seleksi, setelah sebelum-sebelumnya kerap mundur sebelum berperang karena merasa tulisanku tidak cukup layak dibaca orang.

Ya, setidaknya meski tidak terpilih nantinya, aku sudah belajar berani dan percaya dengan karya sendiri, begitu pikirku. Namun, ternyata Tuhan menghendaki pembelajaranku tidak sampai di situ. Aku ikut terpilih menjadi salah satu penulis yang akan mengikuti serangkaian acara di Gresik (mulai dari tanggal 19–21 September 2025).

Setelah dinyatakan terpilih, ada panitia yang menghubungi untuk mengonfirmasi kehadiran pada jadwal agenda yang telah ditentukan. Aku pun mengiakan, meski izin tidak ikut menginap di tempat yang telah disediakan panitia—diminta suami untuk pulang saja soalnya, mungkin suami takut rindu atau tidak nyenyak tidurnya jika tanpa diriku. Hehe.

Nama-nama penulis terpilih


Perjalanan Residensi Literatutur Dimulai

Panitia residensi menyediakan fasilitas penjemputan untuk para peserta dari luar kota. Sebenarnya, aku tidak tahu juga, sih, apakah fasilitas itu juga bisa kumanfaatkan sebagai warga lokal atau tidak, soalnya ya memang aku tidak bertanya.

Aku sendiri memilih ke lokasi dengan naik motor setelah sebelumnya izin sedikit telat karena harus menunggu anak dan suami berada di rumah dulu. Setelah memastikan anakku aman dan tidak menampakkan tanda-tanda enggan ditinggal sendiri bersama abinya, aku pun berangkat menuju Sualoka, sebuah kafe yang berada di Jl. Nyai Ageng Arem-Arem.

Sualoka sendiri sebenarnya adalah bangunan rumah peninggalan Belanda di daerah Kampung Kemasan yang dialihfungsikan menjadi sebuah kafe ramah komunitas (sering dipakai bergiat oleh komunitas-komunitas lokal soalnya). Aku sendiri sudah tidak asing dengan lokasinya karena memang sudah beberapa kali nongkrong di sana.

Akan tetapi, untuk detail reviu mengenai Sualoka mungkin akan kutulis di artikel terpisah. Hehe.

Nah, kembali ke Residensi Literatutur. Di hari pertama sepertinya aku cukup merepotkan panitia. Sudah berangkatku telat, ternyata aku pun salah tempat. Semua dikarenakan aku tidak membaca perubahan jadwal yang sebenarnya sudah dibagikan panitia di grup WhatsApp. Asli, kupikir sama saja dengan yang dikirim lewat email. #tolong ini jangan ditiru pemirsa

Saat sampai di Sualoka, aku sudah curiga karena tempat itu sepi. Saat bertanya kepada mas-mas yang sedang sibuk membersihkan meja, aku diarahkan ke rumah besar yang tidak jauh dari Sualoka. Katanya residensinya ada di sana. Maka, berjalan kakilah diriku ke rumah itu.

Usai melihat suasana dengan cukup bingung, aku pun tetap masuk. "Mbak, ini bener kan, ya lokasi residensi?" tanyaku kembali pada dua perempuan yang mempersilakan diriku mengisi buku tamu.

Perempuan tersebut mengiakan dan memintaku menunggu residensi dimulai sambil melihat-lihat pameran di dalam. Sungguh, aku makin bingung karena ini adalah salah satu bagian pameran Bienalle Jatim dan hanya ada 1–2 orang. Padahal teman-teman lain mengkonfirmasi di grup bahwa mereka sudah sampai sejak tadi dan acaranya sudah dimulai.

Akhirnya, aku memutuskan untuk menghubungi panitia. Menanyakan di mana sebenarnya lokasi residensi berada. Setelah mengatakan bahwa tempatnya berpindah dari Sualoka ke Gresiknesia, aku hendak berjalan kaki sendiri ke sana. Namun, dengan cekatan dua panitia sudah berada di luar rumah besar ini saat aku keluar. Ternyata, di sini memang ada residensi, tetapi residensi fotografi kalau tidak salah ingat.

Bertemu dan Berkenalan dengan Peserta Residensi Lain

Suasana di ruang atas Gresiknesia


Sesampainya di Gresiknesia—aku juga akan mereviu tempat ini di artikel lain—aku segera diarahkan ke ruang atas. Benar saja, di sana teman-teman lain sudah duduk dan memperhatikan pemateri dengan saksama.

Setelah materi tentang Giri Kedaton selesai dipaparkan oleh Pak Ali Murtadho, kami pun saling berkenalan satu sama lain. Setelah mengenal peserta lain secara langsung, ternyata rasa minder yang awalnya kurasakan saat mengintip akun Instagram mereka, perlahan berubah menjadi rasa nyaman. Ya, pasalnya mereka semua sangat ramah dan rendah hati. Huhu, terharu sekali akutuh.

Tidak lama kemudian, kami diminta bersiap untuk ziarah pertama, tentang susuhunan ke makam Sunan Prapen, Sunan Dalem, dan Sunan Giri.

Sesampainya di tempat parkir makam Sunan Prapen, kami menunggu beberapa teman yang masih dalam perjalanan. Kemudian menaiki tangga menuju makam bersama (sebenarnya masih ada yang tertinggal, tetapi panitia memutuskan menunggu di atas saja supaya yang lain bisa mulai melihat-lihat dan mencari info lebih dulu).




Di atas, ada beberapa orang dari berbagai asal yang tengah berziarah. Makam di atas juga ada beberapa, jujur saja meski domisiliku sekarang di Kedanyang, yang mana tidak jauh dari daerah Giri, ini pertama kalinya aku ke Makam Sunan Prapen. Ya, kalau lewat jalanan depannya saja sih, berulang kali.

Di sana, kami sedikit ngobrol juga dengan juru kuncinya. Setelah dirasa cukup, kami pun bergeser ke makam Sunan Giri. Dari lokasi awal, kami berjalan cukup lumayan. Untung saja semua peserta dan panitia terlihat sudah terbiasa. Hihi.

Sayangnya di makam Sunan Giri kami tidak dapat bertemu dengan juru kuncinya, jadi kami hanya melihat-lihat situasi saja. Ternyata, saat itu bersamaan dengan persiapan HAUL Sunan Giri. Di halaman depan, kami dapat melihat betapa sibuknya orang-orang yang tengah menyiapkan singgasana(?) entahlah, apa namanya.

Sebelum kembali ke Gresiknesia, panitia membeli kupat ketheg dan membagikannya kepada peserta. Itu, sih, salah satu makanan khas Gresik yang menjadi favoritku. Aku sedikit kaget ketika mengetahui ternyata beberapa peserta tidak cocok dengan rasanya, tapi ya itu kembali ke selera juga, sih.

Bagi-bagi kupat ketheg


Lumpur Makaryo: Pementasan Pencak Macan

Setelah jadwal ISHOMA (istirahat, sholat, dan makan), sekitar pukul 19.30 kami berkumpul kembali di Gresiknesia untuk bersiap menuju tujuan berikutnya.

O iya, penginapan kami dipisah. Peserta perempuan menginap di Sualoka, tepatnya di ruang Lokalisier (ruang perpustakaan yang berada di dalam kafe tersebut, yang sudah disulap lengkap dengan kasur lantai beserta bantal). Sementara peserta laki-laki menginap di Rumah Nyai, sebuah tempat makan juga, tetapi aku belum pernah ke sana, jadi tidak bisa memberi tahu lebih jauh mengenai tempat tersebut. Padahal jaraknya dekat.

Nah, tujuan kami berikutnya adalah ke daerah Lumpur. Kami dipimpin panitia berjalan menyusuri jalan menuju lokasi pementasan Pencak Macan—sebuah warisan tak benda dari Gresik. Lokasi pementasannya sendiri ternyata adalah sebuah tempat pelelangan ikan. Untuk detail mengenai Pencak Macan sepertinya harus kuceritakan di tulisan terpisah, sebab akan terlalu panjang jika dituangkan di sini sekaligus.

Teman Bicara, Penutup Rangkaian Acara Residensi Literatutur Hari Pertama

Usai menonton pertunjukan Pencak Macan yang malam itu tengah berkolaborasi dengan Kak Pingki Ayako (ilustrator buku Tambo Girisik—buku hasil residensi kali ini). Kami bergegas menuju Sualoka, karena agenda selanjutnya berlokasi di rooftop kafe tersebut.

Ternyata, di Loteng Sualoka saat itu sedang ada sebuah pameran, kami pun diajak melihat-lihat sebentar dan dipersilakan bertemu dengan pemilik karya untuk mendengarkan penjelasan mengenai apa-apa saja yang tengah dipamerkan.

Salah satu karya yang dipamerkan

Setelah puas melihat-lihat, kami pun segera diarahkan menuju rooftop. Mengakhiri hari yang cukup panjang ini dengan bercengkerama sembari menyantap bakso hangat dan beberapa camilan.

Kami banyak berbincang mengenai perjalanan hari pertama ini dan apa yang didapat. Ada yang sudah memiliki gambaran akan menuliskan apa nantinya, tetapi ada juga yang masih tidak memiliki ide apa pun—termasuk diriku.

Melakukan sebuah perjalanan literasi yang penuh dengan sejarah hanya dalam kurun waktu tiga hari, rasanya memang terlalu singkat. Namun, teman-teman dari Yayasan Gang Sebelah berkomitmen untuk membantu penuh proses kami. Usai perbincangan malam itu juga, banyak sekali serat-serat serta tulisan-tulisan yang berhubungan dengan Giri Kedaton dikirimkan ke grup WhatsApp untuk menunjang kebutuhan riset.

Membaca satu per satu dokumen yang dikirimkan membuatku kian menyadari betapa Gresik memiliki makna tersendiri. Sebuah sejarah kuat yang perlahan-lahan tak dipedulikan lagi.

Mungkin, banyak yang tahu di mana Makam Sunan Prapen berada. Namun, kisah yang melekat tentang kepemimpinannya aku yakin tidak banyak yang mengetahuinya. Dari situlah aku mulai merasa kembali menemukan ulang kota Gresik.

Kota yang kutinggali selama puluhan tahun, tetapi ternyata baru kusadari bahwa belum pernah benar-benar kucintai.

Teman Bicara kali ini menutup agenda Residensi Literatutur di hari pertama. Sekitar pukul 23.15 WIB, kami saling mengucapkan salam perpisahan untuk pergi tidur. Esok hari masih harus melanjutkan destinasi lain yang aku yakin tak kalah menakjubkan.

Sebelum pamit pulang karena sudah janji tidak akan menginap kepada suami, aku meminta izin panitia untuk mengajak anakku di residensi hari kedua besok. Ya, begitulah kegiatan hari ini kuakhiri, dengan berbagai rasa dan pandangan berbeda mengenai Gresik, juga rasa lelah karena harus menahan kantuk. Maklum, biasanya tidak pernah melewatkan tidur siang.

Suasana saat Teman Bicara di rooftop Sualoka

Terkadang, apa yang tampak dekat bagimu justru memiliki banyak hal yang sama sekali tak kau tahu. — E. Aprilia R.©2026


Catatan: Semua gambar yang ada pada artikel ini merupakan dokumentasi yang diabadikan dan bagikan oleh panitia Yayasan Gang Sebelah.

Posting Komentar

0 Komentar